ZAMAN PERI TERAKHIR

kehidupan bangsa Periyang terakhir kali tinggal di Bumi. Apa yang terjadi dalam sejarah mereka tak kalah mengagumkan dengan kisah perjalana...






kehidupan bangsa Periyang terakhir kali tinggal di Bumi. Apa yang terjadi dalam sejarah mereka tak kalah mengagumkan dengan kisah perjalanan hidup manusia. Mereka adalah bangsa yang di anugerahi kecerdasan, fisik yang menawan dan umur yang sangat panjang. Banyak kelebihan dari mereka yang umumnya di atas rata-rata umat manusia. Karena kebijaksanaannya, di masa lalu banyak pemimpin manusia yang belajar atau berdiskusi dengan mereka. Tujuannya adalah untuk membangun peradaban yang lebih baik.

Sebagaimana manusia, maka kehidupan bangsa Peri di muka Bumi ini juga tetap sesuai dengan hukum yang berlaku di alam semesta pada umumnya. Mereka juga harus mencari rezeki dan membangun peradaban dengan tangan mereka sendiri, bahkan harus ikut berperang sebanyak beberapa kali demi mempertahankan hak dan prinsip mereka. Dan seperti halnya manusia, pada akhirnya mereka juga harus berhadapan dengan kegelapan untuk bisa ikut menjaga keseimbangan dunia. Kadang mereka harus berkoalisi dengan bangsa manusia, tapi tidak jarang pula mereka pun harus berjuang sendiri. Kegelapan itu memang telah menjadi musuh dari bangsa Manusia dan Peri selamanya.

Nah, untuk lebih jelasnya, mari ikuti uraian berikut ini:

1. Awal kisah
Setelah perang dunia di akhir periode zaman ke enam (Nusanta-Ra) usai, ternyata bayang-bayang kegelapan tetap ada. Sejak kekalahan raja Barlunos, kegelapan memang tak begitu kentara lagi . Mereka selalu bergerak dengan cara sembunyi-sembunyi dan penuh siasat licik. Sesekali saja ia muncul dengan menyusup tidak hanya dikalangan manusia, tetapi di internal bangsa Peri. Dan pada masa dimana kisah ini terjadi, di Bumi masih ada tiga kerajaan bangsa Peri yang hidupnya berdampingan dengan manusia. Mereka masih diizinkan hidup di atas Bumi ini selama beberapa ribu tahun. Selama itu, terkadang mereka berinteraksi dengan bangsa manusia baik dalam suasana damai atau pun perang.

Ketiga kerajaan itu masih terikat hubungan kerabat. Itu terjadi karena leluhur mereka berasal dari sepasang Peri yang sangat bijaksana. Sepasang suami isteri tersebut adalah bangsawan Peri yang bijak dan sangat terhormat di kalangan bangsa Peri Milhanir, di negeri Silhari . Mereka itu bernama Sir el-Hilbirat dan el-Linmaril. Dari mereka ini, maka lahirlah tiga pasang anak kembar yang kemudian dinikahkan secara silang. Ketiganya memiliki ciri khas dan ras yang berbeda. Dari perkawinan ketiga pasangan itu, maka berkembanglah klan yang berbeda dalam bangsa Peri saat itu. Klan-klan tersebut lalu hidup bersamaan dengan klan dan kerajaan Peri lainnya – yang lebih dulu ada – di periode zaman kelima (Dwipanta-Ra).

Waktu pun berlalu selama ribuan tahun. Selama itu, ketiga klan bangsa Peri itu masih tetap dengan kehidupan klannya masing-masing. Namun kemudian itu tak cukup baik bagi kehidupan mereka sendiri. Karena itu setelah 5.000 tahun kehidupan klannya, mereka lalu mendirikan kerajaannya masing-masing, yaitu Gilharil, Ismaril, dan Tuwaril. Ketiganya pun tumbuh sebagai kerajaan yang kuat dan makmur. Tak ada manusia yang berani berbuat macam-macam dengan mereka. Dan itu berlangsung selama jutaan tahun di periode zaman kelima (Dwipanta-Ra).



Lalu, sementara generasi Peri yang lebih tua (senior) sudah pergi dari kehidupan di Bumi (berpindah ke dimensi lain) pada akhir periode zaman kelima (Dwipanta-Ra), ketiga bangsa Peri yang tinggal di kerajaan Gilharil, Ismaril dan Tuwaril ini justru masih hidup selama ratusan ribu tahun kemudian. Selama itu, kehidupan mereka terbilang aman, damai dan sangat makmur. Terkadang mereka beriteraksi dengan manusia dalam beberapa urusan, dan tak pernah ada pertikaian di antara mereka sampai menyebabkan perang. Bangsa manusia justru sering meminta saran dan bantuan dari mereka. Sehingga ketiga bangsa Peri itu menjadi yang disegani dan sangat dihormati sebagai kaum yang bijak. Di kemudian hari, ketiga bangsa Peri inilah yang terlibat langsung dalam kisah yang diceritakan dalam tulisan ini.

Catatan: Tentang bagaimana kehidupan bangsa Peri ini, Anda bisa mendapatkan gambarannya dengan membaca artikel yang berjudul Negeri di Balik Kabut atau . Silahkan di hayati dengan seksama.

Khusus tentang bahasanya, maka tak jauh berbeda dengan manusia, dimana bangsa Peri juga memiliki bahasa yang beragam. Dari zaman ke zaman atau setiap rasnya atau setiap kerajaannya sering menggunakan bahasa yang berbeda-beda. Dan memang sama pula dengan manusia, mereka pun memiliki bahasa pemersatu alias yang bisa dijadikan sebagai alat komuniskasi umum di antara mereka. Sehingga dengan bahasa internasional ini, setiap Peri yang berbeda ras atau kerajaannya tetap bisa berkomunikasi dengan lancar. Setiap Peri diwajibkan untuk bisa menguasai bahasa ini sejak kecil. Adapun nama dari bahasa itu adalah Arhimantaril. Namun perlu diketahui juga disini, bahwasannya bahasa ini bukanlah satu-satunya bahasa yang pernah menjadi bahasa internasional dalam kehidupan bangsa Peri. Sepanjang sejarah mereka di Bumi, bahasa internasional mereka pernah beberapa kali berganti. Bahasa Arhimantaril ini hanyalah salah satu dari sekian banyak bahasa internasional yang pernah mereka pergunakan, khususnya pada zaman Peri terakhir yang diceritakan dalam tulisan ini.

2. Perang besar terakhir bangsa Peri
Setelah hidup selama jutaan tahun, tahun-tahun memudarnya bangsa Peri sudah mulai terjadi. Untuk waktu yang cukup lama mereka telah merasakan kedamaian dan tak tersentuh oleh kekuatan dari kegelapan. Tapi sejak perang dunia manusia terakhir di zaman ke enam (Nusanta-Ra) usai, sejak saat itulah kehidupan bangsa yang berumur sangat panjang ini kian meredup. Jumlah mereka semakin sedikit karena satu persatu dari mereka itu mulai pergi meninggalkan dunia nyata ini, menuju dimensi lain yang telah dipersiapkan untuk mereka. Memang mereka itu lebih dulu hidup di muka Bumi ini ketimbang manusia, tapi sesuai dengan kehendak dari Hyang Aruta (Tuhan YME) mereka harus menyerahkan semua urusan di Bumi ini sepenuhnya kepada bangsa manusia. Apapun yang terjadi nanti, selanjutnya sudah menjadi tanggungjawab dari umat manusia. Mereka takkan terlibat lagi, karena saat itu adalah eranya Manusia yang berkuasa.

Ya. Kehidupan di Bumi sudah kembali normal dan mengalami kedamaian sejak kegelapan yang dibawa oleh raja Barlunos dapat dihancurkan . Namun setelah seribu tahun berlalu, bayang-bayang kegelapan pertama kembali hadir dan dibawa oleh sosok lain yang bernama Wartukh. Awalnya muncul diam-diam di pedalaman hutan tanpa disadari. Hingga kemudian kekuatannya semakin bertambah dan diketahui oleh bangsa Peri yang tinggal di timur. Berselang 15 tahun kemudian, mereka itu bahkan sudah berani menyerang pos-pos kerajaan bangsa Peri Timur dan menjadi ancaman yang berbahaya. Kian lama semakin meningkat saja gangguan yang ditimbulkan oleh serdadu raja kegelapan itu. Tapi lantaran berhadapan dengan bangsa Peri yang terkenal tangguh, mereka selalu dapat dikalahkan.



Sekali lagi abdi kegelapan yang setia, yang sebagian besarnya adalah manusia itu lalu mendirikan kerajaan dibawah kaki gunung berkabut di wilayah utara. Kerajaan itu mereka namakan sebagai Kuldar. Dalam waktu yang relatif singkat, mereka pun sudah menjelma sebagai kekuatan yang besar. Lalu dengan kekuatan seperti itu, terhitung sudah tiga kali mereka menyerang secara besar-besaran kerajaan Peri Timur yang bernama Gilharil. Pertempuran kala itu selalu berlangsung sengit. Tapi disamping keberanian dari bangsa Peri di negeri itu yang sudah terkenal, kekuatan yang ada disana terlalu hebat untuk bisa dikalahkan oleh siapapun, kecuali raja kegelapan sendiri yang datang kesana. Itu pun tetap akan seimbang, meskipun pertempurannya justru berlangsung alot.

Dan pada hitungan tahun ke 25 setelah pertempuran terakhir di lembah Aiyowal, kerajaan Kuldar itu kembali memiliki kekuatan yang besar, bahkan lebih dari sebelumnya. Dibawah komando raja kegelapan bernama Wartukh, kali ini mereka benar-benar berhasrat untuk bisa menaklukkan semua bangsa Peri yang ada di Bumi dan mengambil alih wilayahnya. Dan perang terbesar pun akhirnya terjadi. Dengan musuh yang sebanyak itu, mau tidak mau ketiga kerajaan bangsa Peri yang tersisa harus berkoalisi. Dengan jumlah yang seimbang, mereka pun berperang di dekat perbatasan hutan Cilbran, dipinggiran sebelah utara negeri bangsa Peri Gilharil. Dari sana perang pun meluas sampai ke pedalaman hutan yang lebat itu. Menyebabkan banyak kehancuran yang tak terelakkan. Memang ada niatan dari bangsa manusia untuk membantu, tapi ditolak dengan halus. Bagi bangsa Peri, maka perang saat itu adalah tugas terakhir mereka yang harus diselesaikan sendiri. Mereka ingin memberikan kesan dan kenangan yang baik tentang bangsa Peri. Manusia hanya diminta untuk berjaga-jaga dan tetap waspada.





Singkat cerita, perang tersebut terbilang sangat dahsyat. Banyak yang menjadi korban dan kehancurannya tampak mengerikan, khususnya pada hutan yang biasanya sangat asri itu (hutan Cilbran). Tapi meskipun kerusakan yang diderita hutan indah itu sungguh memilukan, namun serangan-serangan pasukan kegelapan saat itu berhasil dipukul mundur. Sampai pada akhirnya mereka dapat dikalahkan dan raja kegelapannya (Wartukh) kembali bersembunyi. Dan ketika kejahatan itu sudah berlalu, Sir el-Gilharas memimpin pasukan Peri Gilharil, Ismaril dan Tuwaril untuk menyeberangi sungai Haflin menuju negeri berkabut di utara; Kuldar. Disana mereka kembali berperang dan akhirnya berhasil menaklukkan negeri kegelapan itu dalam tempo dua hari saja.

Setelah itu, Sir el-Hasburil, sang pemimpin Peri Ismaril dan pasukannya segera meruntuhkan menara dan gedung-gedung tinggi yang ada di kota tersebut. Sedangkan di tempat lain Sir el-Arhumir, sang pemimpin Peri Tuwaril, mengajak pasukannya untuk membuka bendungan sungai Oiner agar airnya bisa mengalir sebagaimana mestinya. Mereka berupaya untuk bisa mengembalikan hutan-hutan yang ada, khususnya di kawasan Rilhan dan Alunim, menjadi bersih dari pengaruh kegelapan. Sejak saat itu, dunia pun terasa bercahaya lagi. Dan semenjak Wartukh dapat dikalahkan, sejak saat itu pula tak pernah lagi terdengar kegelapan bangkit dan menyerang negeri-negeri yang ada. Baik di negeri Peri atau pun manusia selalu aman dari kekuatan kegelapan yang semacam itu. Dan itu berlangsung selama ribuan tahun.

3. Kepergian bangsa Peri terakhir
Berselang tiga tahun setelah perang melawan pasukan kegelapan, Sir el-Gilharas sang pemimpin Peri Gilharil, meminta dua raja Peri lainnya untuk berkumpul. Mereka bertemu di hutan Indurin tepat di hari ke tujuh pada bulan Swaril (bulan ke tujuh dalam kalender Peri). Dalam pertemuan itu, Sir el-Gilharas lalu menyampaikan keinginannya untuk menyusul leluhurnya ke dimensi lain. Ia dan rakyatnya berencana untuk meninggalkan kehidupan di Bumi ini setelah enam bulan ke depan. Tidak ada lagi keinginan untuk berlama-lama di atas Bumi ini, karena ia pun merasa sudah waktunya bangsa Peri untuk pergi ke tempat lain. Bukan masanya lagi mereka ikut terlibat dalam menjaga keseimbangan di Bumi. Kedepannya nanti, itu sudah menjadi tugas utama dari umat Manusia.



Mendengar penjelasan itu, Sir el-Hasburil (raja Peri Ismaril) dan Sir el-Arhumir (raja Peri Tuwaril) juga merasakan hal yang sama. Mereka sadar bahwa sudah bukan waktunya lagi bangsa Peri untuk tinggal di Bumi ini. Sesuai dengan wasiat dari leluhurnya dulu, bangsa Peri memang harus pergi dari kehidupan Bumi ini setelah perang besar umat manusia terjadi di akhir zaman ke enam (Nusanta-Ra). Mereka sudah tidak bisa lagi berdampingan seperti sebelumnya. Dan ketika mereka sendiri harus berperang menghadapi kegelapan yang terakhir, saat itulah Sir el-Hasburil dan Sir el-Arhumir semakin menyadari bahwa sudah dekat waktunya bagi mereka untuk pergi. Maka di lakukanlah perundingan tentang kerajaan mana yang berangkat duluan. Yang lain akan menyusul kemudian setelah semua urusannya di Bumi usai, khususnya dengan bangsa manusia.

Waktu pun berlalu selama 7 bulan kemudian. Sesuai kesepakatan, giliran pertama yang berpindah dimensi adalah kerajaan Peri Tuwaril. Dibawah pimpinan raja Sir el-Arhumir, bangsa Peri Selatan itu pergi dari dunia nyata ini. Setelah mengarungi Samudera Biru, tiba-tiba mereka langsung menghilang dari pandangan. Negeri mereka dibiarkan kosong, tak berpenghuni sama sekali selama beberapa tahun. Tak ada yang pernah datang kesana selain para pengembara yang “kesasar”. Hingga pada akhirnya kota itu pun ikut menghilang karena telah dipindahkan ke dimensi lain.

Berselang satu tahun tiga bulan berikutnya, giliran raja Sir el-Hasburil dan bangsa Peri di kerajaan Ismaril yang meninggalkan Bumi ini. Mereka pergi tepat pada saat bulan purnama dengan mengarungi Samudera Biru. Di tengah lautan itu, tiba-tiba terbukalah portal dimensi – sebagai pintu gerbang mereka – untuk menuju ke dimensi lainnya. Kapal-kapal mereka yang berkain layar hijau itu satu persatu hilang di balik portal yang ada. Sejak saat itu, tak pernah lagi terdengar bangsa Peri Ismaril muncul di atas Bumi ini. Kota mereka bahkan sudah menghilang sebelum mereka mulai mengarungi Samudera Biru.

Selanjutnya, giliran yang terakhir adalah bangsa Peri di kerajaan Gilharil. Ada jeda waktu selama 17 bulan semenjak bangsa Peri Ismaril pergi. Kesempatan itu lalu mereka pergunakan untuk ber-silaturahim dengan bangsa Manusia, khususnya para pembesar mereka di istananya. Waktu yang tersisa itu benar-benar mereka manfaatkan sebaik mungkin untuk bisa berbincang-bincang dan banyak diskusi. Sesekali mereka memberikan kenang-kenangan berupa perhiasan, kitab pengetahuan dan benda pusaka kepada beberapa orang kesatria. Karena setelah itu takkan ada lagi kontak langsung dengan manusia, bahkan seluruh kehidupan di Bumi ini. Waktu mereka telah habis dan kehidupan di Bumi ini selanjutnya sudah menjadi tanggungjawab sepenuhnya umat manusia. Bangsa Peri takkan terlibat lagi kecuali dalam urusan dan kasus tertentu saja. Itu pun hanya atas perintah dan izin dari Hyang Aruta(Tuhan YME).

Lalu dalam sebuah kesempatan, dihadapan mereka yang berkumpul di tepian dermaga – untuk melepas kepergian bangsa Periterakhir yang tinggal di Bumi itu, raja Sir el-Gilharas pun sempat berkata:

“Akhirnya, wahai saudaraku umat manusia. Masa kami sudah memudar dan akan segera berakhir. Kami sudah terlalu banyak mengumpulkan dan menghabiskan waktu kehidupan di dunia ini, di muka Bumi ini. Kini saatnya untuk pergi dan takkan kembali lagi. Jika tak pergi saat ini, kami khawatir akan dijemput paksa untuk segera pergi.

Wahai sahabat-sahabatku. Memang perpisahan ini terasa berat, tapi sudah ditakdirkan demikian. Tak ada penghiburan untuk kepedihan yang semacam ini dalam lingkungan dunia. Sehingga kita semua harus ikhlas menerima ini sebagai bhakti kita kepada-Nya. Dan kami berharap bahwa kepergian kami ini takkan membuat luka dihati kalian, tetapi memberikan kenangan yang indah. Begitu pun kami kepada kalian, karena semua yang baik akan menjadi kenangan yang terindah. Kita telah hidup berdampingan selama jutaan tahun. Tentu ada suka dan duka yang harus kita lalui bersama. Apapun itu, akan menjadi kenangan yang indah juga bagi kami, tanpa terlupakan. Kisah-kisahnya akan terus kami ceritakan dalam bentuk puisi dan nyanyian.

Sungguh, di tempat yang baru nanti pasti kami sampaikan kepada para leluhur dan juga bangsa lain yang tinggal disana. Bahwasannya di antara manusia itu ada banyak sosok yang luar biasa dan patut dihormati. Mereka adalah pribadi yang mulia, terpilih dan layak dijadikan pemimpin sejati. Jangan meragukan manusia, karena sebenarnya ada banyak keunggulan dalam diri mereka. Selamat tinggal semuanya, izinkanlah kami pergi saat ini”

Begitulah yang pernah dikatakan oleh raja Sir el-Gilharas dihadapan semua pemimpin dan bangsawan manusia tepat sebelum ia beranjak pergi. Tidak sedikit yang berkaca-kaca, bahkan meneteskan airmatanya. Jika bisa memilih, tentu orang-orang ingin bangsa Peri itu tetap hidup bersama mereka dalam mengisi dunia ini. Tapi apa mau dikata, semua sudah menjadi suratan takdir Yang Maha Kuasa. Bangsa yang terkenal anggun itu harus pergi dari kehidupan Bumi ini, selamanya.



Selanjutnya, sama dengan saudara mereka sebelumnya, dibawah pimpinan raja Sir el-Gilharas, bangsa Peri Gilharil juga berlayar ke tengah Samudera Biru. Dalam suasana yang mengharukan, orang-orang menyaksikan bangsa yang terkenal paling santun dan baik budi itu mengarungi samudera luas dengan kapal-kapal layar yang berwarna putih. Mereka benar-benar merasa kehilangan karena kehidupan di Bumi takkan lebih indah setelah kepergian bangsa yang sangat istimewa itu. Meskipun sebenarnya tak mudah untuk bertemu apalagi bersahabat dengan mereka, kepergian mereka saat itu langsung membuat hampa kehidupan di Bumi. Dimana-mana terasa sunyi dan pilu. Selama beberapa waktu alam pun ikut menunjukkan kesedihannya, sementara hutan-hutan terasa layu dan tak bergairah lagi. Kepergian bangsa Peri yang terakhir itu langsung meninggalkan duka yang mendalam dan berkepanjangan. Tinggallah kisah yang bisa di tulis atau di ceritakan kepada anak cucu untuk mengenang kehidupan mereka. Makhluk yang istimewa, yang dikenal luas sebagai bangsa Peri itu.

Ya. Tahun-tahun kepergian bangsa Peri itu lalu dikenang sebagai tahun-tahun kesedihan dunia. Dalam bahasa Peri Gilharil sendiri, peristiwa semacam itu lalu dikenal dengan istilah Urtalium, atau yang berarti kepergian yang memilukan. Dan itu terjadi pada tahun ke 753.000-755.000 dalam hitungan periode zaman ke enam (Nusanta-Ra), atau sekitar 65.000-70.000 tahun silam. Sejak saat itu, kehidupan manusia hanya tersisa selama beberapa puluh ribu tahun saja. Selanjutnya zaman akan berganti baru lagi, yaitu zaman ke tujuh yang disebut dengan Rupanta-Ra (zaman kita sekarang). Satu zaman yang sangat berbeda dengan zaman sebelumnya. Dan tak ada yang bisa mencegahnya, karena itu sudah ditetapkan jauh sebelum Manusia tinggal di atas Bumi ini. Siapapun hanya bisa mengikuti dengan suka cita atau pun menderita. Demikianlah Hyang Aruta (Tuhan YME) mengaturnya dengan sangat teratur.

4. Penutup
Wahai saudaraku. Ada banyak kisah yang sudah tidak diketahui lagi sekarang. Beberapa fakta sejarah bahkan telah dianggap sebagai mitos atau dongeng belaka. Semua itu berangkat dari ketidaktahuan tentang masa kehidupan manusia yang sebenarnya. Sebuah teori langsung dianggap sebagai suatu kebenaran mutlak dan disebarluaskan, bahkan dijadikan kurikulum wajib dalam sistem pendidikan. Yang tidak mengikutinya langsung dicap sesat, bodoh, pengkhayal dan gila. Sehingga orang-orang menjadi terbelenggu dan tak bisa berkembang lagi cara berpikirnya. Seperti “katak dalam tempurung”, maka kesalahan yang ada selama ini masih tetap saja ditelan mentah-mentah.

Padahal yang namanya ilmu pengetahuan itu harus terus berkembang. Harus pula sering dikoreksi dan tidak boleh ada yang membatasi informasi dan wawasan yang ada. Bagaimana pun itu, oleh siapapun juga, kalau informasi yang ada itu salah, maka harus tetap dikatakan salah. Kedepannya harus ada perbaikan dan revisi, sementara yang bersangkutan harus mau menerima sesuatu yang baru, yang bisa saja jauh lebih benar. Jangan malah tetap ngotot dan berusaha untuk mencari pembenaran saja – meskipun dengan banyak alasan atau jalan penelitian ilmiah katanya. Karena sesungguhnya ada begitu banyak hal yang belum kita ketahui selama ini. Kita-nya saja yang sering merasa sudah paling tahu dan paling pintar sendiri. Hingga akhirnya merasa paling benar dan terhebat meskipun salah.

Begitulah kisah dari bangsa Peri. Saat ini mereka lebih sering dipandang sebagai dongeng dan mitos belaka. Padahal dulu mereka itu nyata dan sangat berarti dalam kehidupan di Bumi ini. Siapapun yang bisa bertemu dengan mereka bahkan dianggap sebagai orang yang beruntung. Itu terjadi sebab akan banyak manfaat dan keberkahan bagi seseorang sejak ia bertemu dengan bangsa yang terhormat itu. Sehingga dengan perginya mereka dari Bumi ini, sejak saat itu pula kehidupan serasa pincang. Bangsa Periadalah jenis makhluk lain yang berakal dan memiliki banyak kemampuan khusus, yang terakhir kali mendampingi manusia di Bumi ini. Sebelumnya ada bangsa Jin, Cinturia, Karudasya dan Naga yang juga mendampingi manusia tapi sudah lebih dulu berpindah ke dimensi lainnya. Di Bumi, kini manusia hanya ditemani oleh Hewan dan Tumbuhan saja. Tapi sayang keduanya tidak seperti bangsa Peri, lantaran tidak di anugerahi akal yang cerdas.

Ya. Sejak kepergian bangsa Peri, kehidupan di Bumi ini serasa kurang. Terlebih sikap manusia yang semakin lama semakin tidak bertanggungjawab, maka tak ada lagi keindahan dan keharmonisan di muka Bumi ini. Itu bisa disadari atau dipahami jika kita sering membuka hati dan nurani kita sendiri. Cobalah mengheningkan cipta (semedhi, meditasi, tafakur) dan rasakanlah bahwa dengan hilangnya bangsa Peri dalam urusan di Bumi ini telah menjadi kehilangan yang teramat besar bagi kehidupan manusia. Dan itu kian terasa ketika manusia sendiri, yang ditugaskan sebagai penjaga Bumi, justru tidak peduli lagi dengan kondisi Bumi ini. Banyak dari kita yang semakin lupa diri, lupa dengan lingkungan hidupnya dan lupa pula dengan Tuhannya sendiri. Sehingga hanya waktulah yang tepat untuk menjadi hakim terbaik dalam kehidupan dunia ini. Kita tunggu saja, bahwa keadilan dan kebenaran yang sejati itu akan hadir dengan ketegasan. Mungkin tidak akan lama lagi.

Semoga kita termasuk orang-orang yang baik dan bertanggungjawab dalam hidup ini. Dan semoga kita selamat ketika proses transisi zaman ini terjadi. Rahayu _/|\_

Jambi, 02 September 2017
Harunata-Ra

Catatan akhir:
1. Sebagaimana tulisan sebelumnya, disini kami pun hanya menyampaikan dan mengingatkan sesuai protap. Tidak ada paksaan untuk percaya atau tidak percaya disini. Semua menjadi hak dan pilihan Anda sekalian.
2. Semua kisah tentang bangsa Peri di atas terjadi di sekitar kawasan Eropa Timur, Asia, Pasifik, Nusantara, Australia dan New Zealand sekarang. Pada masa itu, model dan karakter kehidupannya sangat jauh berbeda dengan yang ada di periode zaman ke tujuh kita ini (Rupanta-Ra).
3. Hingga saat ini bangsa Peri itu masih ada dan mereka hidup dalam keabadian. Jika mau dan tahu caranya, siapapun masih bisa berinteraksi dengan mereka atau bahkan bertemu langsung. Hanya saja hal itu tidaklah mudah dan butuh ketekunan yang tinggi. Melatih kemampuan tersembunyi dalam diri pribadi adalah yang utama untuk bisa.
4. Semua foto dan ilustrasi yang ada di dalam tulisan hanya sebatas pemanis tulisan saja. Bukanlah gambaran yang sebenarnya.
Name

artikel,23,berita,45,budaya,12,Cermin,1,dharma,1,fiksi-file,7,filsafat,6,ghaib,2,ilmu,1,inspiratif,11,internasional,11,iptek,5,islami,31,kaweruh,6,kejawen,5,kesehatan,7,kisah,6,militer,9,mistik,6,nasional,1,nusantara,2,olahraga,1,opini,1,politik,3,psikologi,1,sejarah,21,selebriti,3,seni,3,spiritual,31,supernatural,2,tasawuf,4,Tausiah,6,tips,8,Unik,5,wanita,4,
ltr
item
SWARA NUSANTARA: ZAMAN PERI TERAKHIR
ZAMAN PERI TERAKHIR
https://oediku.files.wordpress.com/2017/10/elf-1.jpg?w=150&h=79
SWARA NUSANTARA
https://suwarnews.blogspot.com/2017/12/zaman-peri-terakhir.html
https://suwarnews.blogspot.com/
http://suwarnews.blogspot.com/
http://suwarnews.blogspot.com/2017/12/zaman-peri-terakhir.html
true
3038772048707643647
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts LIHAT SEMUA Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy