Simpul Pencarian Dalam Daur Kehidupan Untuk Meraih Kesempurnaan/Kesejatian Diri

Selama ada kekuatan kamma, ada kelahiran kembali, makhluk hidup adalah semata mata perwujudan dari kekuatan kamma. Kematian hanyalah akh...


Selama ada kekuatan kamma, ada kelahiran kembali, makhluk hidup adalah semata mata perwujudan dari kekuatan kamma. Kematian hanyalah akhir sementara dari fenomena sementara ini. Kematian bukanlah kemusnahan total dari apa yang disebut makhluk ini. Kehidupan organik berakhir tapi kekuatan kamma yang menggerakkannya belum musnah.

Kekuatan kamma tak terganggu oleh terurainya tubuh yang fana ini, saat matinya pikiran menjelang ajal, saat itu pula terkondisikan kesadaran baru dalam kelahiran berikutnya.

Tumimbal lahir yang dimaksudkan harus dibedakan dari teori reinkarnasi yang menyiaratkan adanya perpindahan jiwa dan kelahiran kembali materi yang tetap. menolak adanya jiwa yang tak berubah atau kekal yang diciptakan oleh Tuhan atau berasal dari Inti Ilahi (paramatma)

Adalah kamma – yang berakar dalam kebodohan batin dan kemelekatan – yang mengkondisikan tumimbal lahir.

Kamma yang lampau menentukan kelahiran sekarang dan kamma sekarang bersama yang lampau menentukan masa depan.

Kalau kita menerima dalil kehidupan masa lalu, masa sekarang dan masa depan, maka kita seketika berhadapan dengan masalah misterius :


“ Apakah awal mula kehidupan ? “

Antara harus ada awal mula atau tidak ada awal mula kehidupan. Salah satu aliran dalam usaha memecahkan jawaban ini mendalilkan sebab pertama – Tuhan – yang dipandang sebagai kekuatan atau sebagai makhluk mahakuasa. Aliran lain menolak sebab pertama, karena pada lazimnya sebab selalu menjadi akibat dan akibat menjadi sebab. Dalam lingkaran sebab akibat – sebab pertama tidak terbayangkan.

Paham pertama menyatakan : kehidupan memiliki awal sedangkan yang kedua, hidup tak berawal mula.

Dari sudut pandang ilmiah –biologis, kita adalah produk langsung dari sperma dan sel telur yang berasal dari kedua orang tua kita. Kehidupan mendahului kehidupan. Mengenai asal usul protoplasma pertama kehidupan atau koloid, para ilmuwan dari jaman dahulu hingga jaman canggih saat ini menyatakan tidak tahu !


Kita lahir dari rahim perbuatan (kammayoni). Orang tua hanya menyediakan suatu sel yang sangat kecil. Begitulah makhluk mendahului makhluk. Pada saat pembuahan, kamma masa lalulah yang mengkondisikan kesadaran awal yang menghidupkan janin. Energi kamma yang tak terlihat inilah yang berasal dari kelahiran lampau, menghasilkan fenomena mental dan fisik yang sudah ada untuk melengkapi tiga serangkai yang membentuk manusia.

Gambaran hidup adalah sebagai gelombang, bukan garis lurus. Kelahiran dan kematian hanyalah dua tahap dari proses yang sama. Silih bergantinya kelahiran dan kematian dalam kaitan dengan arus kehidupan setiap individu membentuk apa yang secara tenhis dikenal sebagai “samsara”

“Samsara” ini tanpa akhir yang dapat dipahami. Awal pertama makhluk – yang tersumbat oleh kebodohan batin dan terbelenggu oleh nafsu keinginan, berkelana dan berlalu, tidaklah terpahami.” Awal mula dari arus kehidupan ini tak dapat ditentukan.

Kamma dan Sang Pencipta


Kamma ( Hukum sebab akibat moral)

Apakah ini merupakan kehendak dari Sang Pencipta ???

Kita semua pasti punya pertanyaan pertanyaan membingungkan, mengapa seseorang menjadi lemah dan yang lain berkuasa ? Mengapa seseorang dibesarkan dalam pangkuan kemewahan sementara yang lain hidup dalam kemelaratan. Mengapa seseorang terlahir sebagai jutawan dan lainnya papa ? Mengapa seseorang tampan, sementara yang lain buruk dan mengerikan, cacat atau menjijikkan bagi banyak orang ? Mengapa seseorang terlahir sebagai anak genius sementara yang lain idiot ? Mengapa ada orang yang terberkahi sedangkan yang lain terkutuk sejak lahir ? Bagaimana kita harus menanggung semua ketidak adilan dunia, ketidak seimbangan umat manusia ? Apakah ini hasil dari kebetulan atau kecelakaan belaka ? Tak ada sesuatupun didunia ini yang terjadi secara kebetulan atau kecelakaan.

Segala sesuatu terjadi dari Kamma ! Buddhism secara tegas menyatakan : Tak ada yang terjadi pada manusia yang tak pantas diterimanya karena satu dan lain alasan.

Apabila segala ketidak-adilan dan ketidak-seimbangan ini merupakan kehendak dari Sang Pencipta, maka jelas kebanyakan dari kita akan merasa bahwa Ia tidaklah baik dan adil, dalam pengertian apapun, ia jahat dan tidak adil.

Menurut paham theologi, manusia diciptakan secara sepihak tanpa kemauannya sendiri dan pada saat penciptaannya ditetapkan mendapat berkah atau kutuk selamanya, oleh karenanya manusia menjadi baik atau jahat, beruntung atau tidak, mulia atau bejat, sejak tahap awal proses penciptaan fisiknya sampai akhir nafasnya, tanpa mempedulikan keinginannya, pengharapannya, ambisinya, perjuangannya atau doanya yang khidmad. Paham semacam ini adalah fatalisme theologis.

Beberapa penulis pada masa silam dengan tegas menyatakan bahwa Tuhan menciptakan manusia sesuai dengan citra-Nya sendiri. Beberapa pemikir modern sebaliknya menyatakan bahwa manusia menciptakan Tuhan sesuai dengan citranya sendiri. Dengan perkembangan peradaban, konsep manusia tentang Tuhan juga semakin diperbaiki.

filsafat spiritual disini semata mata mengacu pada awal mula arus kehidupan makhluk hidup. Terserah kepada para ilmuwan untuk berspekulasi mengenai asal mula dan evolusi alam semesta. Buddhism tidak berusaha memecahkan masalah etika dan

filsafat yang membingungkan umat manusia. Tidak berurusan dengan berbagai teori dan spekulasi yang cenderung tidak membawa manfaat ataupun pencerahan.

Kamma , secara harfiah berarti perbuatan, tetapi dalam pengertian yang dalam berarti niat baik dan buruk (kusala akusala cetana). Kejahatan mendatangkan kejahatan, kebaikan mendatangkan kebaikan. Segala sesuatu menarik yang serupa. Inilah hukum Kamma .

Kita menuai apa yang telah kita tabur. Apa yang kita tabur akan kita tuai di suatu tempat dan pada suatu saat. Dalam satu pengertian, kita saat ini adalah hasil dari kita di masa lalu, kita akan menjadi hasil dari kita saat ini pula. Pengertian lainnya, kita tidak sepenuhnya menjadi hasil dari kita di masa lalu dan saat ini. Seorang penjahat hari ini bisa menjadi orang suci besok.

Buddhism mengacu keberagaman ini pada kamma, tetapi tidak berarti bahwa segala sesuatu disebabkan oleh kamma. Kalau segalanya disebabkan oleh kamma. Seseorang harus selamanya jadi buruk, karena itu kamma-nya untuk jadi buruk.

Oleh karena itu, kamma hanyalah salah satu dari kaidah yang berlaku dialam semesta. Kamma adalah hukum itu sendiri, tetapi tidak berarti harus ada pembuat hukum. Hukum alam yang lazim, seperti gravitasi bekerja pada bidangnya sendiri tanpa campur tangan pihak lain yang memerintah.

Kamma bukanlah nasib ataupun takdir yang ditetapkan untuk kita oleh suatu kekuatan tak dikenal yang misterius, yang mana kita harus menyerahkan diri secara tak berdaya. Kammaadalah perbuatan kita sendiri yang bereaksi terhadap diri kita, semua dari kita tak terkecuali, memiliki kemungkinan membelokkan arah kamma sampai taraf tertentu. Seberapa jauh orang mengarahkannya, tergantung pada dirinya sendiri.

Istilah imbalan dan hukuman tidak diperkenankan masuk dalam pembahasan kamma, karena buddhism tidak mengenal suatu makhluk mahakuasa yang mengatur umatnya serta memberi imbalan dan hukuman yang sesuai. Kesedihan dan kebahagiaan yang dialami seseorang adalah hasil alamiah dari perbuatan baik dan buruk. Kamma memiliki prinsip kesinambungan dan kesetimpalan.

Keyakinan penuh buddhism pada kamma berarti tidak berdoa kepada kekuatan lain untuk diselamatkan, tetapi dengan yakin menyandarkan pada diri sendiri untuk penyucian dirinya karena hal itu mengajarkan tanggung jawab pribadi.

Ajaran tentang kamma inilah yang mampu menjelaskan masalah penderitaan, misteri dari sesuatu yang disebut nasib atau takdir. Kamma dan tumimbal lahir diterima sebagai hal yang sudah jelas.

Buddhism tidak menuntut keimanan membuta dari para pengikutnya sehubungan dengan sebab pertama (Pencipta), tetapi hanya peduli dengan masalah penderitaan dan pelenyapannya. Hanya dengan tujuan pandang yang praktis dan spesifik ini, semua permasalahan yang tidak relevan diabaikan sepenuhnya.

Buddhism atau Dhamma telah dibabarkan oleh Sang Buddha (Sidharta Gautama) sejak lebih dari 2500 tahun lalu yang sampai kini dan kapanpun tetap relevan dan selaras dalam peri kehidupan manusia sehari hari, dari jaman ke jaman.

Sang Buddha hanyalah sebagai guru, membimbing kita, tetapi kita sendirilah yang secara langsung bertanggung jawab untuk kesucian kita.

Titik awal Buddhism adalah penalaran benar atau pemahaman benar (samma-ditthi)

Jangan menerima suatu pemahaman atau kepercayaan begitu saja, tetapi ketahuilah sendiri bahwa hal hal ini tidak bermoral, hal ini dapat dipersalahkan atau dicela oleh para bijaksana. Kata kata penuh inspirasi dari buddhism ini masih mengandung kekuatan dan kesegaran aslinya. Tidak ada kepercayaan membuta.

Buddhism tidak memuja suatu citra dengan mengharapkan bantuan duniawi atau spiritual, tetapi menghormat terhadap apa yang dilambangkannya.

Seorang Buddhist dalam mempersembahkan bunga dan dupa pada sebuah citra, membuat dirinya merasakan kehadiran Sang Buddha hidup dengan demikian terilhami oleh kepribadian-Nya yang mulia dan menghirup dalam dalam belas kasih-Nya yang tanpa batas. Objek-objek penghormatan eksternal ini tidak mutlak perlu, tetapi berguna karena cenderung memusatkan perhatian seseorang.

Sang Buddha berkata : “Orang yang paling menghormati-Ku adalah orang yang benar benar menjalankan ajaran-Ku” “ Ia yang melihat Dhamma, juga melihat-Ku”

Dalam buku The Three Greatest Men in History, H.G. Welis menulis : “ Dalam diri Sang buddha Anda melihat dengan jelas seorang manusia, sederhana, tulus, sendirian, berjuang untuk mencapai penerangan – sebuah kepribadian yang nyata, bukan mitos.

Ia mengajarkan bahwa semua kesengsaraan dan ketidakpuasan disebabkan oleh keegoisan. Sebelum seseorang menjadi tenteram, ia harus berhenti hidup untuk kesenangan inderawi atau untuk dirinya sendiri (egoisme pribadi).

Sang Buddha dalam berbagai bahasa mengajak manusia untuk mengabaikan diri 500 tahun sebelum Kristus. Pesan universalnya lebih dekat dengan kita dan kebutuhan kita. Sangat dekat dan jelas mengenai kepentingan dan pelayanan individu kita, sekarang maupun dikemudian hari.

Untuk menjadi tenteram, mengabaikan egoisme pribadi. Buddhism mengajarkan kita laku meditasi. Apakah meditasi itu ? Bila Anda tidak mengenal meditasi, Anda ibarat seorang buta yang hidup ditengah indahnya dunia warna warni alam semesta. Akan tetapi begitu Anda mengenal dan mengerti apakah itu meditasi, maka Anda ibarat seorang buta yang baru bisa melihat, betapa indahnya dunia yang penuh dengan warna warni ini.

Meditasi Buddhist

Ada empat dasar utama meditasi buddhist, yang tentunya sangat mudah dipraktekkan, tidak berbahaya, bagi siapapun tanpa pandang kepercayaan agama.

Meditasi – Konsentrasi pada pernafasan ( Anapanasati )
Meditasi – Cinta Kasih ( Metta )
Meditasi – Kesempurnaan ( Parami )
Meditasi – Tentang Aku

Anapanasati adalah perhatian penuh pada pernafasan. Ana berarti menarik nafas dan apanaberarti menghembuskan nafas.

Konsentrasi pada proses pernafasan menuntun pada keterpusatan pikiran dan akhirnya pada pandangan terang yang memungkinkan seseorang mencapai kesucian batin.

Ambil posisi tubuh yang nyaman, jaga tubuh tegak. Letakan tangan kanan diatas tangan kiri. Mata dapat terpejam atau setengah terpejam.

Orang timur biasanya duduk bersila dengan badan tegak dengan menempatkan kaki kanan diatas paha kiri dan kaki kiri diatas paha kanan. Ini adalah posisi teratai penuh. Kadang kadang mereka mengambil posisi setengah teratai, yaitu dengan menempatkan kaki kanan diatas paha kiri atau kaki kiri diatas paha kanan.

Ketika posisi segitiga dilakukan, seluruh tubuh dalam keadaan seimbang.

Bagi yang merasakan posisi bersila terlalu sulit boleh duduk dengan nyaman dikursi atau pendukung lain yang cukup tinggi untuk mengistirahatkan kaki diatas tanah/lantai. Tidak penting postur apa yang diambil, asalkan posisi itu mudah dan santai. Kepala tidak boleh menunduk. Leher harus diluruskan sehingga hidung dalam garis tegak lurus terhadap pusar.

Para Buddha biasanya mengambil posisi teratai penuh. Mereka duduk dengan mata setengah terpejam memandang pada jarak tidak lebih dari tiga setengah kaki.

Sebelum berlatih, udara kotor dari paru paru harus dikeluarkan pelan pelan melalui mulut kemudian mulut harus ditutup.

Sekarang tarik nafas dari lubang hidung secara normal, tanpa ketegangan, tanpa paksaan. Dalam hati, hitung satu. Keluarkan nafas dan hitung dua. Tarik nafas dan hitung tiga. Hitung sampai sepuluh secara konstan dengan memusatkan perhatian pada proses bernafas tanpa memikirkan hal lainnya. Selama melakukan ini, pikiran kita mungkin mengembara. Tetapi kita tak perlu patah semangat. Secara bertahap kita boleh menambah jumlah seri – misalnya lima seri yang terdiri dari sepuluh hitungan.

Kemudian kita bisa menarik nafas dan berhenti sejenak, semata mata memusatkan perhatian pada menarik nafas tanpa menghitung. Keluarkan nafas dan berhenti sejenak.

Demikianlah, tarik dan keluarkan nafas sambil memusatkan pikiran pada pernafasan. Beberapa orang lebih suka menghitung karena membantu konsentrasi, sementara yang lain lebih suka tidak menghitung. Yang penting adalah pemusatan perhatian dan bukan menghitung yang merupakan hal sekunder.

Ketika kita melatih konsentrasi ini, kita merasa sangat damai, pikiran dan tubuh terasa ringan. Setelah berlatih beberapa jangka waktu, akan tiba suatu hari ketika kita dapat menyadari bahwa apa yang disebut tubuh ini hanya ditunjang oleh nafas belaka dan tubuh akan mati ketika nafas berhenti. Kita akan sepenuhnya menyadari ketidak kekalan. Dimana mana ada perubahan, tidak mungkin ada zat yang kekal atau jiwa yang abadi. Pandangan terang kemudian dapat dikembangkan untuk mencapai tahap kesucian.

Jelas bahwa tujuan dari konsentrasi pada pernafasan ini bukan semata-mata untuk memperoleh pemusatan pikiran, tetapi juga untuk mengembangkan Pandangan terang untuk memperoleh pembebasan dari penderitaan.

Metta (meditasi cinta kasih), tenangkan dan damaikan pikiran.

Uncarkan tiga kali : Namo Buddhaya

Uncarkan tiga kali : Araham

Uncarkan : Buddham saranam gacchami

Dhammam saranam gacchami

Sangham saranam gacchami

Renungkanlah :

Pikiranku murni untuk sementara, bebas dari semua kekotoran, bebas dari nafsu keinginan, kebencian dan kebodohan batin, bebas dari semua pikiran jahat.

Pikiranku murni dan bersih. Bagaikan cermin yang berkilau, pikiranku tak ternoda.

Bagaikan wadah yang bersih dan kosong terisi dengan air murni, kini aku mengisi hati yang bersih dan pikiran yang murni dengan kedamaian dan keluhuran cinta kasih tanpa batas dan belas kasih melimpah, kegembiraan, simpati dan keseimbangan batin yang sempurna.

Renungkanlah sepuluh kali :

Semoga aku “ sehat dan bahagia ”

Semoga aku bebas dari penderitaan, penyakit, kesedihan, kecemasan dan kemarahan. Semoga aku kuat, percaya diri, sehat dan damai.

Kini aku mengisi setiap bagian dari tubuhku, dari kepala sampai kaki dengan cinta kasih dan belas kasih tanpa batas. Aku adalah perwujudan dari cinta kasih dan belas kasih. Seluruh tubuhku terpenuhi oleh cinta kasih dan belas kasih.

Aku adalah sebuah kubu, sebuah benteng cinta kasih dan belas kasih. Aku telah meluhurkan diriku, menjunjung diriku, menyucikan diriku.

Renungkanlah :

Dalam batin aku menciptakan aura cinta kasih di sekelilingku. Dengan aura ini, aku memotong semua pikiran negatif, getaran permusuhan. Aku tidak terpengaruh oleh getaran jahat orang lain. Aku membalas kejahatan dengan kebaikan, kemarahan dengan cinta kasih, iri hati dengan simpati. Batinku damai dan seimbang. Kini aku adalah benteng cinta kasih, kubu moralitas.

Apa yang kucapai kini kuberikan kepada yang lain.

Pikirkanlah orang orang dekat dan terkasih di rumah, secara perorangan atau kelompok, isi mereka dengan pikiran cinta kasih dan harapkan kedamaian dan kebahagiaan mereka, dengan mengulang kalimat : “Semoga semua makhluk sehat dan bahagia”

Lalu pikirkanlah semua makhluk yang tampak dan tak tampak, dekat dan jauh, pria, wanita, binatang dan semua makhluk hidup, di timur, barat, utara, selatan, atas dan bawah dan pancarkanlah cinta kasih tanpa batas, tanpa permusuhan atau hambatan apapun, kepada semua tanpa pandang kedudukan, keyakinan, warna kulit atau jenis kelamin. Anggaplah semua adalah saudara saudari Anda, kawan dalam samudra kehidupan. Anda menempatkan diri sama dengan semua. Anda menyatu dengan semua.

Ulangi sepuluh kali: “Semoga semua makhluk sehat dan bahagia” … dan harapkan kedamaian dan kebahagiaan bagi mereka semua.

Dalam perjalanan hidup Anda sehari-hari, berusahalah untuk mewujudkan pikiran Anda menjadi tindakan sesuai keadaan.

Dasa Parami ( Kesempurnaan )

  1. Dana (Kemurahan hati) : Semoga aku murah hati dan suka membantu.
  2. Sila (Moralitas) : Semoga aku terlatih baik dan halus dalam perilaku. Semoga aku murni dan bersih dalam segala urusan. Semoga aku suci dalam pikiran, ucapan dan perbuatanku.
  3. Nekkhamma (Pelepasan) : Semoga aku tidak mementingkan diri dan tidak melekat, namun dapat mengorbankan kesenanganku demi kepentingan orang lain.
  4. Panna (Kebijaksanaan) Semoga aku menjadi bijaksana dan dapat melihat segala sesuatu sebagaimana adanya. Semoga aku melihat cahaya kebenaran dan menuntun orang lain dari kegelapan menuju cahaya. Semoga aku mencapai pencerahan dan dapat menerangi yang lain. Semoga aku dapat memberikan manfaat pengetahuan kepada yang lain.
  5. Viriya (Semangat) : Semoga aku bersemangat, giat dan ulet. Semoga aku berusaha dengan rajin sampai mencapai tujuanku. Semoga aku tidak takut menghadapi bahaya dan dengan berani mengatasi segala rintangan. Semoga aku dapat melayani orang lain semampuku.
  6. Khanti (Kesabaran) : Semoga aku selalu sabar. Semoga aku dapat menahan dan menanggung kesalahan orang lain. Semoga aku selalu toleran serta melihat kebaikan dan keindahan dalam semua orang.
  7. Sacca (Kejujuran) : Semoga aku selalu jujur dan tulus. Semoga aku tidak menyembunyikan kebenaran demi sopan santun. Semoga aku tidak pernah menyimpang dari jalan kebenaran.
  8. Adhitthana (Keteguhan tekad) : Semoga aku teguh, kokoh dan berkemauan baja. Semoga aku lembut bagaikan bunga dan kokoh bagaikan batu karang. Semoga aku berpegang teguh pada prinsip.
  9. Metta (Cinta Kasih) : Semoga aku selalu baik hati dan berbelas kasih. Semoga aku dapat menganggap semua sebagai saudara saudariku dan menyatu dengan semua.
  10. Upekkha (Keseimbangan Batin) : Semoga aku selalu tenang, tenteram, teduh dan damai. Semoga aku mencapai pikiran yang seimbang. Semoga aku memiliki keseimbangan batin yang sempurna.

Semoga aku melayani untuk menjadi sempurna.

Semoga aku menjadi sempurna untuk melayani.

Meditasi tentang “Aku”

Renungkanlah : Siapakah “Aku” ini ?

Apakah “aku” ini ada ?

Yang disebut “aku” atau “ego” ini adalah sumber segala masalah, kecemasan, kegelisahan dan ketidak bahagiaan.

Ketika “aku” melekat pada hal hal yang diinginkan, maka timbullah keserakahan atau kemelekatan. Ketika “aku” menolak hal hal yang tidak diinginkan, maka timbullah niat jahat, kemarahan atau kebencian.

Ketika “aku” putus asa, maka timbullah kesakitan, kecemasan, kesengsaraan, ketidak-bahagiaan yang bisa berakhir dengan pengakhiran hidup.

Ketika “aku” dalam bahaya, maka timbullah rasa takut.

Ketika “aku” melekat pada diri sendiri, maka timbullah sifat mementingkan diri, memisahkan diri, iri hati dan kecemburuan.

Ketika “aku” menggelembung, maka timbullah kesombongan dan keangkuhan.

Ketika “aku” meluas dan menyatu dengan semua, maka timbullah rasa tidak mementingkan diri, menyatukan diri, belas kasih tanpa batas, cinta kasih universal dan harmoni sempurna.

Ketika “aku” tiada atau teratasi, maka timbullah ketenang-seimbangan sempurna tanpa kemelekatan atau penolakan.
Name

artikel,23,berita,45,budaya,12,Cermin,1,dharma,1,fiksi-file,7,filsafat,6,ghaib,2,ilmu,1,inspiratif,11,internasional,11,iptek,5,islami,31,kaweruh,6,kejawen,5,kesehatan,7,kisah,6,militer,9,mistik,6,nasional,1,nusantara,2,olahraga,1,opini,1,politik,3,psikologi,1,sejarah,21,selebriti,3,seni,3,spiritual,31,supernatural,2,tasawuf,4,Tausiah,6,tips,8,Unik,5,wanita,4,
ltr
item
SWARA NUSANTARA: Simpul Pencarian Dalam Daur Kehidupan Untuk Meraih Kesempurnaan/Kesejatian Diri
Simpul Pencarian Dalam Daur Kehidupan Untuk Meraih Kesempurnaan/Kesejatian Diri
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiVnFCrUMKlrsNf3tublna1eFH4q8RljfAmlccUGHrfIryGbACMILeDbwuYkviaoqwtkmAr0nbZJFbBO5iCAehtlDgr4WC3IH5FGp7Ml5IzvytOphtvacREbUVfaT322J38Pf79YJgghLk/s640/o.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiVnFCrUMKlrsNf3tublna1eFH4q8RljfAmlccUGHrfIryGbACMILeDbwuYkviaoqwtkmAr0nbZJFbBO5iCAehtlDgr4WC3IH5FGp7Ml5IzvytOphtvacREbUVfaT322J38Pf79YJgghLk/s72-c/o.jpg
SWARA NUSANTARA
https://suwarnews.blogspot.com/2017/10/simpul-pencarian-dalam-daur-kehidupan.html
https://suwarnews.blogspot.com/
http://suwarnews.blogspot.com/
http://suwarnews.blogspot.com/2017/10/simpul-pencarian-dalam-daur-kehidupan.html
true
3038772048707643647
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts LIHAT SEMUA Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy